BANGKA, Infobabel
Waktu beranjak sore saat sebagian pegawai di lingkungan RSUD Soekarno Bangka Belitung mulai bersiap pulang.
Namun bagi dokter spesialis bedah, Armayani Rusli (56), jam kerja bukan sekadar pagi atau petang.
Pada momen natal dan tahun baru ini, Ia menjadi salah satu dokter yang siaga menerima panggilan tugas.
Armayani tak pulang ke rumah, tetapi memilih tinggal di mess yang berada di kompleks RSUD Soekarno.
“Hari-hari siaga nataru ini memang lebih banyak tinggal di mess. Sebagai dokter bedah saya umumnya menangani pasien gawat darurat,” kata Armayani saat berbincang dengan media, Jumat (26/12/2025).
Selain RSUD Soekarno yang berlokasi di Jalan Lintas Timur Bangka, Armayani juga mengisi praktik di RS Arsani dan RS Batin Tikal.
Guna mengejar jadwal operasi antar rumah sakit yang terpaut hampir 20 kilometer, Armayani menggunakan mobil minibus lawas keluaran tahun 2000-an.
Mobil yang nyaris ringkih tersebut, setia menemani Armayani dalam menunaikan tugas mulia, walaupun harus menembus hujan badai.
“Ada empat operasi hari ini, salah satunya tumor perut,” kata Armayani.
Armayani mengungkapkan, profesi dokter merupakan panggilan tugas yang harus siap pada siang maupun malam hari, terutama saat momen natal dan tahun baru.
Seperti natal kali ini, banyak dokter yang juga ikut merayakannya sehingga dokter yang lain bersiap menggantikan, sebagai wujud toleransi, ikut merasakan kebahagiaan saat rekan seprofesi beribadah bersama keluarga mereka.
“Terkadang yang namanya dokter harus siap dipanggil juga walaupun hari raya, tapi selagi bisa ditangani kita usahakan, supaya rekan yang sedang berhari raya bisa lebih tenang,” ujar Armayani.
Alumni kedokteran Universitas Andalas ini melihat perayaan natal di Bangka Belitung relatif kondusif, nyaris tidak ada peristiwa menonjol sehingga pasien yang ditangani umumnya merupakan pasien yang bersifat penanganan rutin.
Namun pada momen pergantian tahun, bisa saja muncul insiden seperti kebakaran atau kecelakaan lalu-lintas.
“Biasanya kita antisipasi untuk pasien luka bakar seperti kena kembang api atau luka akibat kecelakaan lalu lintas,” ungkap ayah dua anak itu.
– Beternak ikan nila
Di sela-sela waktu siaga menunggu pasien, Armayani memanfaatkan ruang belakang mess untuk budidaya nila.
Ia membangun kolam bioflok yang didukung sistem pengairan berbasis listrik.
Benih yang sudah ditebar berumur sekitar satu bulan dengan masa pembesaran diperkirakan lima bulan.
“Waktu senggang beternak ikan, ada nila dan lele, ini menjadi hobi, juga untuk sumber pangan,” jelas Armayani.
Dengan segala aktivitasnya itu, Armayani berdoa agar selalu diberi kesehatan yang baik supaya bisa melayani pasien sampai akhir hayat.






