BANGKA, Infobabel
Sebuah video yang memperlihatkan aksi seorang petani membabat habis tanaman sawinya di Desa Air Duren, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, mendadak viral di berbagai platform media sosial. Aksi nekat ini dilakukan sebagai bentuk keputusasaan akibat anjloknya harga jual sawi di tingkat petani.
Harga Anjlok hingga Rp2.000 per Kilogram
Armada, petani di balik video viral tersebut, mengaku terpaksa memusnahkan tanaman yang seharusnya siap panen. Harga sawi yang semula berada di kisaran Rp8.000 per kilogram, merosot tajam menjadi hanya Rp2.000 per kilogram.
Menurut Armada, harga tersebut jauh dari kata cukup untuk menutupi biaya operasional, mulai dari pengadaan bibit hingga biaya perawatan rutin. Bahkan, para tengkulak pun enggan menyerap hasil panen karena rendahnya selisih keuntungan.
“Pening kepala, maka ditebaslah. Kami juga harus bayar upah. Kalau harga jual murah, tidak menutupi (biaya),” ujar Armada dengan nada kecewa.
Ia menjelaskan bahwa lahan seluas 2 hektar miliknya mampu menghasilkan sekitar 7 ton sawi. Namun, tanpa harga yang layak, hasil produksi melimpah tersebut justru menjadi beban bagi para petani.
Respons Pemerintah Kabupaten Bangka
Menanggapi viralnya aksi tersebut, Bupati Bangka, Fery Insani, langsung memerintahkan petugas terkait untuk terjun ke lapangan guna melakukan verifikasi dan mencari akar permasalahan.
“Iya benar ada informasi seperti itu. Saya minta petugas ke lokasi melihat bagaimana permasalahan sebenarnya,” kata Fery saat dihubungi, Jumat (6/2/2026).
Fery menegaskan bahwa pemerintah daerah tengah memikirkan solusi jangka pendek maupun panjang untuk membantu para petani lokal, terutama dalam hal stabilitas harga dan akses pasar.
Integrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu solusi strategis yang tengah digodok adalah menyinkronkan hasil panen petani dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Fery berencana mengarahkan hasil produksi petani ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Ada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bisa dikomunikasikan. Tentu akan kita lihat nanti peluangnya untuk menampung hasil panen petani,” jelas Fery.
Meski demikian, kendala teknis masih ditemukan di lapangan. Armada mengaku sempat mencoba menawarkan hasil panennya ke SPPG di Kecamatan Mendo Barat, namun belum membuahkan hasil karena satuan tersebut belum sepenuhnya beroperasi.
Harapan besar kini tertumpu pada pemerintah agar program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mampu menjadi penyerap hasil komoditas lokal sehingga ekonomi petani di Bangka Belitung tetap terjaga.






