BANGKA, Infobabel
Sebanyak tiga juta metrik ton abu batu bara atau FaBa (Fly ash bottom ash) akan digunakan secara masif untuk pupuk dan media tanam di Indonesia.
FaBa diproyeksikan untuk mendukung ketahanan pangan nasional, termasuk mengurangi ketergantungan pupuk pada perkebunan sawit.
“Ini adalah residu dari pembakaran batu bara pada PLTU yang bisa dimanfaatkan untuk ketahanan pangan nasional,” kata Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya saat kunjungan ke PLTU Air Anyir, Bangka, Kamis (13/8/2026).
Bambang mengatakan, selama ini FaBa lebih banyak digunakan untuk pembuatan properti seperti paving block dan rangka beton.
Ke depan pemanfaatan FaBa akan diperluas pada sektor tanaman pangan hingga skala perkebunan.
“Sudah ada uji coba pada tanaman cabai, dari semula pohonnya kerdil, tumbuh subur dan banyak tunas baru setelah menggunakan FaBa,” ujar Bambang.
Sementara pada perkebunan sawit, FaBa mampu menekan ongkos produksi petani karena harganya yang murah, berkisar Rp 35.000 per karung, sedangkan urea mencapai Rp 500.000 per karung.
“Sekarang sudah dicoba campuran FaBa dengan sampah organik dan ditambah urea. Campuran bahan tersebut lebih bagus untuk tanaman dan harganya lebih murah,” jelas Bambang.
Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo mengatakan, FaBa yang dihasilkan secara nasional mencapai tiga juta metrik ton per tahun.
FaBa telah dinyatakan bukan kategori limbah berbahaya, sehingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan pembangunan.
“Untuk mendukung ketahanan pangan didukung Komisi XII DPR RI, FaBa ini terus dimanfaatkan,” ujar Rizal.
Ia mengatakan bahwa Bangka Belitung yang memiliki dua PLTU yakni di Air Anyir Bangka dan Suge Belitung, juga menghasilkan FaBa secara signifikan dengan jumlah mencapai 165.000 ton per tahun.
“Komitmen ini terutama ketahanan pangan yang kita mulai dari Bangka Belitung,” ungkap Rizal.
Saat ini pemanfaatan FaBa telah dimulai dengan melibatkan komunitas pecinta lingkungan serta pelaku usaha kecil dan menengah.
Sebagian FaBa di Bangka Belitung digunakan juga untuk program reklamasi pascatambang.





