BANGKA, Infobabel
Permintaan air bersih di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung melonjak signifikan seiring musim kemarau yang belum usai.
Penyedia air bersih mengaku kewalahan memenuhi permintaan konsumen yang datang silih berganti.
“Rata-rata permintaan belasan ribu liter dalam sehari. Dalam dua bulan ini meningkat dibanding beberapa waktu sebelumnya,” kata Saleh, penyedia jasa air bersih di Kampak, Pangkalpinang, Jumat (11/9/2026).
Saleh menuturkan, air bersih dijual pada warga Rp 110.000 dengan volume sebanyak 1.000 liter.
Tedmon air tersebut diangkut menggunakan pikap dan dipompa ke rumah warga menggunakan mesin robin.
“Dalam sehari bisa sebelas trip, setiap trip bawa tedmon 1.000 liter,” ujar Saleh.
Dari kegiatan musiman tersebut, Saleh bersama seorang rekannya bisa meraup omzet rata-rata Rp 1 juta per hari.
Demi menjaga kualitas, Saleh tidak menggunakan air dari kolong tambang. Ia menggunakan sumur bor yang kemudian ditampung di kolam besar untuk selanjutnya didistribusikan sesuai permintaan warga.
“Terkadang kalau lagi padat masih harus menunggu ketersedian air di kolam sumur bor. Dilayani satu-satu karena kami pakai pikap, sekali isi ulang,” ujar Saleh.
Ia menambahkan bahwa berjualan air bersih telah dilakoni sejak 2023. Ketika itu Bangka Belitung juga dilanda musim kemarau yang memicu terjadinya lonjakan permintaan air bersih.
“Biasanya kami angkut sawit. Kebetulan musim kemarau ini permintaan tinggi untuk air bersih,” ucap Saleh.
Sementara itu, warga mengaku memesan air bersih karena sumur bor di rumahnya semakin sulit mendapatkan air.
“Airnya kecil dan harus menunggu lama,” ujar, Andi, warga komplek Graha Pinang Mas.
Andi mengatakan bahwa komplek perumahannya menggunakan sumur bor, bukan sumur tanah. Banyak warga yang mulai kesulitan mendapatkan air karena pipa bor perumahan tidak terlalu dalam.
Kini pasokan air bersih tambahan menjadi dibutuhkan meskipun harus dibeli.
“Lumayan juga empat kali dalam sebulan pesan air bersih,” ungkap Andi.
Sementara jatah air bersih yang dibagikan instansi pemerintah tidak mencukupi dan jadwal distribusinya tidak pasti.
Demi menjamin pasokan air, warga juga berencana menggunakan layanan PDAM dengan sistem tagihan bulanan.






