Potensi Lada Bangka Belitung Capai Rp 5,3 Triliun

oleh
oleh

PANGKALPINANG, Infobabel

Kondisi komoditas lada Bangka Belitung dengan lisensi Muntok White Pepper kini diambang mengkhawatirkan, seiring berkurangnya lahan dan jumlah produksi.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) Bangka Belitung, Syukriah HG mengatakan, budidaya lada sebagai salah satu sektor unggulan selain tambang timah, kini menghadapi krisis.

“Terjadi penyusutan yang signifikan untuk lada Bangka Belitung dalam beberapa tahun terakhir,” kata Syukriah saat Focus Group Discussion Green Economy di Pangkalpinang, Kamis (13/11/2025).

Syukriah menjelaskan, dalam kurun waktu lima tahun (2019 sampai 2024), luas areal tanaman lada menyusut 32 persen, dari 29.325 hektar menjadi 19.909 hektar.

Angka tersebut berbanding lurus dengan jumlah pekebun yang berkurang 33 persen, dari 62.672 keluarga menjadi hanya 41.916 pekebun.

“Paling mengkhawatirkan, volume produksinya anjlok 50 persen, dari 33.458 ton menjadi 16.717 ton,” jelas Syukriah.

Melihat krisis pada data tersebut, lanjut Syukriah, Kanwil DJPb Bangka Belitung, menjalankan peran sebagai Regional Chief Economist dan Financial Advisor, mencoba untuk menggali informasi demi mengetahui kondisi terkini potensi Lada yang sudah tersohor sejak berabad lalu.

“Tim kecil kami di Kanwil, mengadakan studi literatur dan mencoba berkomunikasi dengan para pihak-pihak terkait,” ungkap Syukriah.

Dia mengungkapkan, permasalahan yang dapat diidentifikasi bersifat multidimensi. Pada sisi on-farm (budidaya), terjadi masalah klasik seperti serangan penyakit, biaya produksi yang tinggi, dan masifnya peralihan pekebun ke penambangan timah serta tanaman lain seperti sawit.

Kemudian pada sisi off-farm (tata niaga), adanya masalah struktural seperti harga jual yang tidak stabil, struktur pasar yang cenderung oligopolistik, dominasi trader, dan praktik ijon yang melemahkan posisi tawar petani.

“Potensi ekonomi dari komoditas lada ini sangat menjanjikan. Mengacu pada data International Pepper Community (IPC) per Oktober 2025, harga lada putih di pasar global mencapai USD 10.085 per metrik ton. Jika kita konversikan, dengan asumsi kurs Rp 16.000, harganya setara dengan Rp161.360 per kilogram,” beber Syukriah.

Syukriah menambahkan bahwa jika produksi lada kembali ke level puncaknya di tahun 2019, sebanyak 33.458 ton, nilai ekonominya bisa mencapai Rp 5,39 Triliun.

“Dibandingkan nilai saat ini, ada potensi ekonomi yang hilang sebesar Rp 2,69 triliun setiap tahunnya,” ungkap Syukriah.
Gubernur Bangka Belitung Hidayat Arsani mengatakan, selama beberapa tahun, struktur ekonomi Bangka Belitung masih sangat bergantung pada sektor pertambangan timah.

“Sektor ini memang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah, namun di sisi lain, kita tidak dapat menutup mata terhadap tantangan lingkungan, ketimpangan sosial, dan ketergantungan ekonomi yang ditimbulkannya,” ujar Hidayat.

Hidayat mengatakan, lada putih yang dihasilkan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah memiliki citra dimasyarakat dunia dengan sebutan Muntok White Pepper yang dicirikan dengan rasanya yang khas yaitu pedas lada.

“Daerah yang menjadi penghasil lada putih terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berada di Kabupaten Bangka Selatan dengan total produksi sebesar 17,009 ton,” ujar Hidayat.

Langkah perbaikan yang akan ditempuh mencakup tiga aspek yaitu perbaikan tata niaga, modernisasi di tingkat petani dan hilirisasi produk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.