BELITUNG, Infobabel
Suasana tenang di Desa Cerucuk, Kabupaten Belitung, berubah menjadi mencekam setelah seorang warga bernama Rusmanto (40) yang bekerja menambang timah, tewas akibat serangan buaya. Peristiwa tragis ini terjadi saat korban sedang mandi di sebuah kolong (bekas galian tambang) bersama anaknya pada Senin sore (9/2/2026).
Peristiwa bermula sekitar pukul 16.30 WIB. Berdasarkan keterangan tim SAR, korban saat itu sedang beraktivitas di air bersama anaknya. Secara mengejutkan, seekor buaya muncul dan langsung menerkam serta menyeret Rusmanto ke dalam air.
Kejadian memilukan tersebut disaksikan langsung oleh anak korban. Dalam keadaan trauma, sang anak segera berlari mencari pertolongan dan melaporkan kejadian itu kepada warga sekitar.
Kepala Kantor SAR Pangkalpinang, Mikel Rachman Junika, menyatakan bahwa pihaknya segera merespons laporan keluarga dengan menerjunkan tim rescue dari Pos SAR Belitung dan USS Tanjung Pandan.
Pencarian yang melibatkan Tim SAR gabungan dan masyarakat setempat berlangsung cukup menegangkan. Predator berukuran besar tersebut dilaporkan sempat beberapa kali muncul ke permukaan, membuat tim harus ekstra waspada dalam melakukan pemantauan hingga malam hari.
“Beruntungnya, predator buas tersebut melepas korban. Pada pukul 23.40 WIB, korban berhasil dievakuasi, namun dalam keadaan meninggal dunia,” jelas Mikel.
Jasad Rusmanto kemudian dilarikan ke RSUD Marsidi Judono, Belitung, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut sebelum diserahkan ke pihak keluarga.
Mikel Rachman Junika menyampaikan apresiasinya kepada seluruh unsur yang terlibat dalam evakuasi cepat ini.
Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi dinyatakan ditutup pada Selasa dini hari. Pihak berwenang pun kembali mengimbau warga untuk selalu waspada saat beraktivitas di sekitar kolong atau sungai yang menjadi habitat buaya.
Serangan buaya terhadap manusia di lokasi bekas tambang Bangka Belitung menambah panjang daftar permasalahan lingkungan.
Warga perlu tahu bahwa kolong yang terindikasi menjadi habitat buaya atau memiliki tebing yang rawan longsor. Zona ini wajib dilarang untuk aktivitas mandi atau mencuci dan kolong sering kali menjadi habitat baru bagi buaya karena rusaknya ekosistem sungai.







