Era media online dan digitalisasi informasi telah diprediksi banyak orang sejak jauh-jauh hari, bahkan tidak ada yang menyangkalnya. Namun sebagian besar justru terkejut, karena masanya datang begitu cepat.
Semula peralihan koran cetak ke media online diperkirakan butuh waktu sepuluh tahun atau lebih. Prasangka ini muncul lantaran negara berkembang seperti Indonesia belum memiliki infrastruktur internet yang memadai dibandingkan Amerika Serikat atau negara-negara eropa.
Tapi fakta bicara lain.
Hanya dalam tempo kurang dari sepuluh tahun, media online membanjiri lini media massa nasional dengan cepat. Pada tahun 2007 dan 2008 rata-rata media massa di Indonesia dan juga media lokal baru pada tahap perencanaan untuk bertransformasi. Ketika itulah masih banyak yang memperkirakan bahwa peralihan cetak ke online akan berjalan lambat.
Pada kenyataannya, tujuh sampai delapan tahun kemudian, berbagai kanal media online ramai bermunculan. Pertumbuhan media online berlangsung masif dan nyaris tak terbendung, seiring semakin mudahnya penggunaan telepon seluler pintar di kalangan masyarakat.
Hingga kini diperkirakan terdapat lebih dari 40.000 media online, meskipun baru sebagian kecil yang terverifikasi Dewan Pers.
Media massa cetak atau koran-koran cetak mendapat pukulan telak, mereka terpaksa harus bertarung tergesa-gesa. Tidak hanya peralihan ekosistem yang harus dibuat, media massa juga harus berhadapan dengan platform baru bernama media sosial.
Media ini dengan cepat merebut hati masyarakat karena lebih menawarkan hiburan ketimbang informasi yang memberatkan pikiran. Maka mau tidak mau, media massa pun kini memanfaatkan media sosial sebagai salah satu kanal informasi mereka.
Beban stasiun televisi
Belakangan peralihan platform media ini justru dirasakan paling berat pada stasiun televisi. Metode produksi dengan cara-cara konvensional ternyata menyedot biaya besar dan butuh waktu lama. Sementara media sosial hadir dengan arus informasi yang begitu cepat dan praktis. Setiap warga atau setiap pengguna telepon seluler, bisa dengan mudahnya mengunggah informasi dari mana saja, kapan saja selagi mereka terhubung dengan internet.
Partisipasi warga internet ini membuat media massa konvensional menjadi tertinggal jauh. Stasiun televisi dulu boleh berbangga dengan siaran live, meskipun harus mengerahkan banyak personel dan armada Satellite News Gathering (SNG) yang memakan biaya mobilisasi.
Sementara sekarang, pengguna internet dengan mudahnya memencet fitur live mereka, bahkan saat makan sekalipun.
Kondisi demikian menggambarkan stasiun televisi menjadi salah satu media massa berbiaya besar. Siaran televisi juga masih dikekang dengan regulasi dan proses redaksi yang kaku dan tidak efisien.
Tidak mengherankan jika pada akhirnya banyak stasiun televisi yang memangkas jumlah pekerja mereka, serta menutup biro-biro daerah karena tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman.
Efisiensi dan transformasi
Efisiensi dan inovasi serta transformasi menjadi kunci media massa khususnya stasiun televisi untuk bertahan di tengah gempuran zaman online saat ini.
Investasi berkelanjutan dengan mempertahankan sektor konservatif dan biro-biro yang tidak produktif, justru akan memperdalam kerugian, bahkan merusak finansial sebuah grup media.
Sejak dulu sudah ada konsep wartawan serba bisa (multitasking journalist) yang bisa menghandel pemberitaan dalam bentuk naskah serta foto dan video secara sekaligus. Cara ini sangat relevan, menilik perkembangan zaman yang menuntut efisiensi ketat dan produksi praktis dan serba cepat.
Konsep biro-biro daerah justru membebani biaya operasional stasiun televisi, karena cenderung birokratif dan tidak mampu memproduksi konten-konten bermutu. Lagi pula, sangat sedikit kue bisnis yang bisa digarap televisi di daerah, bahkan tidak ada sama sekali.
Pemasang iklan lebih cenderung menggunakan media sosial mereka atau bekerja sama dengan influencer dengan daya jangkau yang lebih presisi dan terukur dengan mudah. Maka jika ingin tetap bertahan, stasiun televisi harus keluar dari ritme kerja lama yang lambat. Masuk dan menjelma ke platform media sosial saja tidak cukup.
Efisiensi dan penghapusan sektor-sektor yang tidak produktif wajib dilakukan, agar tidak berdampak sistemik, menggerogoti grup usaha lainnya. (Opini Redaksi).





