PANGKALPINANG, Infobabel
Di sebuah kios sederhana berukuran 2 x 3 meter di Jalan Masjid Jamik, Pangkalpinang, deru halus mesin pemotong rambut dan denting gunting menjadi irama harian bagi Ridwansah (48).
Dengan ketelitian yang terasah selama belasan tahun, pria paruh baya ini hanya membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit untuk menyulap penampilan pelanggannya menjadi lebih rapi.
Ridwansah bukanlah sosok baru di kawasan tersebut. Sejak tahun 2009, ia telah menekuni profesi sebagai pemangkas rambut di ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini. Pelanggannya pun datang dari berbagai kalangan, mulai dari pekerja sektor informal, aparatur sipil negara, hingga pejabat daerah.
”Wakil Bupati dan Wakil Wali Kota pernah pangkas di sini. Prinsipnya, kita harus membuat pelanggan nyaman dan hasilnya sesuai dengan keinginan mereka,” ujar Ridwansah saat berbincang, Minggu (15/3/2026).
Warisan Keahlian dan Perjalanan Hidup
Keahlian memangkas rambut sejatinya mengalir di darah Ridwansah. Ia mewarisi keterampilan tersebut dari sang ayah dan telah mempelajarinya sejak usia muda.
Meski sempat mencoba peruntungan di bidang lain—seperti berdagang pakaian hingga berjualan nasi goreng—ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke “khitah” sebagai tukang pangkas karena merasa lebih nyaman dan stabil.
Kini, usaha yang diberi nama “Pangkas Rambut Minang” tersebut menjadi tumpuan hidup keluarganya. Nama usahanya merujuk pada asal-usulnya yang merupakan keturunan Maninjau, Agam, Sumatera Barat, meski ia menghabiskan masa kecil hingga remaja di Palembang.
Profesionalisme di Tengah Keterbatasan
Meski menempati kios sewa yang mungil, Ridwansah tidak main-main soal kualitas. Ia sangat selektif dalam memilih peralatan kerja. Demi kenyamanan pelanggan, ia menggunakan mesin cukur elektrik pabrikan Amerika Serikat yang harganya di atas Rp 1 juta.
”Banyak yang harganya murah, tapi cepat rusak. Mesin yang berkualitas lebih tahan lama dan nyaman saat digunakan ke pelanggan,” ungkap Ridwan.
Ketangguhannya juga teruji saat menghadapi masa sulit pandemi Covid-19 lalu. Meski aktivitas sempat dibatasi, ia tetap bertahan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat agar dapur tetap mengepul.
Harapan Besar untuk Buah Hati
Dari setiap kepala yang dirapikannya dengan tarif Rp 20.000 untuk anak-anak dan Rp 25.000 untuk dewasa, Ridwansah berhasil menyekolahkan keempat anaknya. Harapan besarnya kini tertuju pada anak sulungnya yang sudah menginjak bangku kuliah semester dua.
”Mudah-mudahan mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari orang tuanya. Tapi sebagai keterampilan, saya tetap ajarkan mereka cara memangkas rambut. Tak ada salahnya memiliki keahlian itu,” tuturnya bijak.
Manfaat Unik Limbah Rambut
Ada sisi menarik dari usaha Ridwansah. Limbah rambut hasil pangkasannya ternyata tidak dibuang begitu saja. Banyak pekebun sawit setempat yang datang meminta rambut-rambut tersebut untuk ditaburkan di sekeliling pohon sawit.
”Rambut ini bisa mengusir hama babi dan tikus. Karena hewan-hewan itu mengendus, mereka tidak suka jika ada rambut manusia di sekitar pohon,” pungkas Ridwansah menutup pembicaraan.





