Bangka, Infobabel
Lebih dari setengah abad lalu Agus MD mewarisi cara pembuatan gasing dari orang tuanya di Jebus, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.
Kini di usianya yang sudah 66 tahun, Agus MD terus melestarikan permainan gasing. Selain membuka workshop sendiri di rumahnya, Agus MD juga aktif mengenalkan permainan gasing di sekolah-sekolah.
“Gasing adalah permainan tradisional yang kita kenal dulu saat di kampung. Ketika orang tua menebas di ladang, mereka juga membuat gasing,” kata Agus saat ditemui di Pangkalpinang, Rabu (9/9/2026).
Agus menuturkan, gasing kayu khas Bangka terbuat dari pohon Mengiris dan pohon Mentege.
Jenis kayu tersebut masih tumbuh hingga saat ini sehingga menjamin ketersediaan bahan baku pembuatan gasing.
“Secara umum kita di Indonesia mengenal gasing jantung dengan bobot berkisar 400 sampai 650 gram,” ujar Agus yang sehari-hari berwirausaha.
Menurut Agus, pembuatan gasing memerlukan keterampilan khusus agar tekstur atau uri gasing bisa terbentuk secara pas dan berputar kencang.
Keterampilan tersebut didalami Agus selama berpuluh tahun, sampai akhirnya ia diundang ke Perancis.
Di negara Eropa tersebut Agus diminta menampilkan kemahirannya dalam membuat sekaligus memainkan gasing kayu.
“Ketika itu sebelum Covid-19 sekitar Januari 2020 ada undangan dari Kedutaan Perancis agar hadir di negara mereka memperkenalkan gasing,” kenang Agus.
Agus pun memanfaatkan momen langka tersebut untuk memperkenalkan gasing khas Indonesia di panggung internasional.
Banyak negara hadir untuk memperkenalkan jenis gasing mereka masing-masing.
“Kita masih melestarikan gasing kayu, sementara di Amerika sudah menggunakan bahan sintetis polymer,” ujar Agus.
Agus berharap permainan gasing terus dilestarikan karena terbukti bisa menjadi ajang interaksi sosial generasi muda.
“Interaksi sosial menjadi lebih hidup serta mencegah kenakalan remaja seperti tawuran dan narkoba,” ucap Agus.
Menurut Agus, permainan gasing cenderung ditinggalkan karena generasi terpengaruh dengan gawai dan permainan berbasis internet.
“Sebab itu kami terus mendorong permainan gasing di sekolah dalam bentuk muatan lokal,” ujar Agus.
Saat ini workshop di rumah Agus dilengkapi juga dengan alat pemintal tali yang bisa disesuaikan dengan bentukan gasing.
“Setelah bertahun-tahun akhirnya ketemu alatnya untuk buat tali. Jadi sekarang dibikin sendiri,” ungkap Agus.
Agus menambahkan bahwa dalam waktu dekat bakal digelar lomba permainan gasing tingkat sekolah dasar di Pangkalpinang.
Lomba tersebut sudah menjadi agenda tahunan yang digagas Persatuan Gasing Seluruh Indonesia (Pergasi) di samping pameran dan pertunjukan saat event tertentu.
“Alhamdulillah sekarang mulai banyak respons, termasuk dari wali kota menyarankan dibuat tugu gasing nantinya,” ucap Agus.
Ayah empat anak ini mengungkapkan bahwa selain Indonesia, permainan gasing juga berkembang pesat di Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam.
Bahkan keberadaan gasing Indonesia dan Malaysia seakan bersaing dalam warisan budaya maupun pariwisata.
“Memang kita dan Malaysia itu kadang terkesan ngotot, saling klaim. Padahal bisa dilakukan pertemuan tingkat ASEAN membicarakan permainan gasing dengan keunikan masing-masing,” beber Agus.
Secara fisik lanjut Agus, gasing Malaysia memiliki bobot lebih berat karena menggunakan pelat tambahan.
Sementara tali yang digunakan relatif sama yakni sepanjang tiga meter lebih.
“Perlu kerja sama untuk gasing Asean, jangan ngotot seolah gasing milik Indonesia atau Malaysia,” pesan Agus.
Agus mengatakan bahwa gasing khas Bangka kini menjadi salah satu yang tersisa secara nasional, selain dari daerah Riau dan Kalimantan.
“Beberapa kali pertemuan sudah dilakukan antar daerah dan disepakati standar permainannya,” ucap Agus.
Dalam pertandingan misalnya, penilaian dilakukan menggunakan sistem poin, yaitu menang dengan memukul gasing hidup akan mendapatkan 100 poin. Sementara menang biasa mendapatkan 50 poin dan seri 50 poin.
Luasan arena permainan gasing berkisar 50×50 meter yang 15 × 30 di antaranya merupakan gelanggang khusus pemain.








