Bangka, Infobabel
Upaya PT TIMAH (Persero) Tbk dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir terus membuahkan hasil. Seperti yang dirasakan Pokdakan Tuah Bersatu di Desa Sawang Laut, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun.
Sejak tahun 2022, PT TIMAH mendampingi Pokdakan Tuah Bersatu mengembangkan budidaya kakap putih sebagai salah satu upaya meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir sehingga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para nelayan.
Melalui pendampingan, pelatihan, bantuan sarana dan prasarana, kelompok ini terus berkembang dan mampu menghasilkan panen meski menghadapi berbagai tantangan dalam proses budidaya.
Ketua Pokdakan Tuah Bersatu, Amran mengatakan, pada awalnya anggota kelompok hanya mengetahui budidaya kakap putih dari berbagai tayangan dan informasi yang mereka lihat. Namun berkat pembinaan yang diberikan PT TIMAH serta dukungan pelatihan dari Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, mereka mulai berani mencoba membudidayakan kakap putih secara mandiri.
“Budidaya kakap putih mulai kami rintis pada tahun 2022. Tahun 2023 kami mulai mendapatkan bantuan pembibitan dan pendampingan. Awalnya kami mencoba menebar 500 ekor benih kakap putih dan berhasil menghasilkan sekitar 210 kilogram ikan. Dari situ kami semakin yakin untuk mengembangkan usaha budidaya ini,” ujar Amran.
Baca juga : Usulan Kampung Nelayan Merah Putih di Kelurahan Ketapang Terus Dimatangkan
Keberhasilan awal tersebut mendorong kelompok untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas budidaya. Mereka kemudian mendapat kepercayaan untuk mengembangkan 3.000 ekor benih kakap putih berukuran 8-10 sentimeter yang juga berhasil memberikan hasil ekonomi bagi kelompok.
Meski demikian, perjalanan budidaya kakap putih tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan pengetahuan, mahalnya biaya pakan, hingga faktor cuaca menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Menurut Amran, dukungan PT TIMAH sangat membantu kelompok untuk tetap bertahan dan melanjutkan budidaya. Bantuan pakan yang diberikan perusahaan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha mereka.
“Kami pernah menghadapi kendala besar, terutama saat cuaca panas ekstrem pada tahun 2025. Saat itu kami juga memiliki keterbatasan alat untuk mengukur suhu air tambak. Namun PT TIMAH terus mendampingi kami sehingga kami tetap semangat untuk belajar dan mengembangkan budidaya ini,” katanya.








