BELITUNG, Infobabel
Dari ujung timur Pulau Belitung, dua siswa bernama Fathan Mahardika Pranaja dan Arzyla Quenna menorehkan capaian membanggakan, terpilih menjadi peserta Program Bina Talenta Indonesia Tahap 2 Luring bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM) jenjang SMP.
Program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI ini bukan ajang sembarangan. lebih dari 4.000 peserta SMP se-Indonesia, mengajukan diri, namun hanya segelintir yang berhasil melangkah ke tahap nasional.
Dan dua di antaranya adalah siswa SMP Negeri 1 Manggar, wilayah pelosok yang dikenal sebagai penghasil timah dunia, tapi juga tersohor dengan hasil perikanannya.
“Kami hampir terlambat daftar. Tapi kami percaya, kalau niatnya baik dan anak-anaknya punya semangat, pasti ada jalan,” kata Kepala SMPN 1 Manggar, Titin Purwasari saat dihubungi, Jumat (7/11/2025).
Titin menjelaskan bahwa majelis guru menyepakati untuk mengirim tiga siswa ikut seleksi, tetapi hanya dua yang berhasil lolos.
“Alhamdulillah, Fathan akan berangkat ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sementara Arzyla ke Universitas Syiah Kuala Banda Aceh,” kata Titin bangga.
“Kami ingin menunjukkan bahwa dari daerah pun, anak-anak bisa bersinar di panggung nasional. Kuncinya tekun, percaya diri, dan jangan takut gagal,” pesan dia.
– Dari Kelas Daring ke Dunia Sains
Sebelum lolos ke tahap luring, Fathan dan Arzyla mengikuti pembinaan daring selama dua bulan. Mereka belajar langsung dari para dosen dan pakar STEM dari Universitas Pendidikan Indonesia dan Universitas Bina Nusantara (Binus).
“Kami belajar banyak tentang teknologi, bahkan sempat membahas Artificial Intelligence (AI),” kata Fathan, siswa kelas IX yang juga menjabat Ketua OSIS di sekolahnya.
“Awalnya agak susah mengikuti materi, tapi karena seru dan interaktif, kami malah jadi penasaran terus.” jelasnya.
Fathan mengaku pengalaman ini membukakan matanya tentang dunia yang lebih luas. Ia bisa bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah, dari Sabang hingga Merauke, semuanya punya mimpi yang sama: membangun Indonesia lewat sains dan inovasi.
“Rasanya luar biasa bisa berdiskusi dengan teman-teman yang pintar dan semangat. Kami belajar bahwa ilmu bukan cuma soal nilai, tapi tentang bagaimana kita bisa berguna untuk banyak orang,” ujarnya pelan namun mantap.
Bagi Arzyla dan Fathan, perjuangan belum selesai. Mereka masih harus mengikuti tahap pembinaan dan kompetisi tingkat nasional. Namun semangat mereka tidak surut sedikit pun.
“Semoga kami bisa memberikan hasil terbaik untuk Belitung Timur dan Bangka Belitung,” harap Fathan.





