Harga TBS Sawit di Bangka Rp 3.000 per Kilogram, Kini Terkendala Pupuk

oleh
oleh

BANGKA, Infobabel

Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kepulauan Bangka Belitung yang sempat anjlok pada bulan lalu, kini mulai stabil Rp 3.000 per kilogram di tingkat pabrik.

Sementara di pengepul harga sawit berkisar Rp 2.700 – Rp 2.800 per kilogram. Harga tersebut dinilai petani telah bergerak positif, seiring permintaan pasar yang ikut membaik.

Petani berharap kenaikan harga sawit dibarengi ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau.

“Aspirasi yang kita sampaikan beberapa waktu lalu hampir 90 persen telah terpenuhi. Sekarang tantangannya harga pupuk yang cenderung naik akhir-akhir ini,” kata Plt Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Bangka Belitung, Jamaludin saat dihubungi, Sabtu (13/6/2026).

Jamaludin mengatakan, harga TBS sawit sudah seharusnya naik karena harga lelang crude palm oil (CPO) juga ikut naik.

Pada penawaran pekan lalu, CPO di lelang Franco Belawan dan Dumai tercatat Rp 15.450 per kilogram.

Sementara di Franco Teluk Bayur terpantau Rp 15.095 dan FOB Talang Duku Rp 15.025 per kilogram.

“Minyak sawit kita dibutuhkan oleh berbagai negara, apalagi sekarang ada program minyak sawit untuk bahan bakar solar mulai dari 50 persen sampai 100 persen akan diambil dari CPO,” ujar Jamaludin.
Ia berharap stabilisasi harga jual TBS juga berimplikasi pada peningkatan produksi di tingkat petani.
Namun hal itu akan terkendala jika ongkos operasional termasuk harga pupuk ikut naik tanpa terkendali.
“Harga pupuk yang mahal dan musim kering yang akan kita hadapi, bisa membuat produksi anjlok,” ujar Jamaludin.
Saat ini harga pupuk NPK compact mencapai Rp 630.000 per kemasan. Selanjutnya urea granul Rp 625.000, KCL mahkota Rp 480.000 dan dolomite Rp 60.000 per kemasan.

Kenaikan harga pupuk mencapai Rp 40.000 sampai Rp 70.000 per kemasan, menyebabkan petani harus menyiapkan modal lebih besar selain ongkos perawatan dan jasa angkut yang harus ditanggung.

“Komoditas sawit sangat berdampak pada lapangan kerja dan perekonomian daerah, jadi mohon pemerintah memperhatikan tata kelolanya dan ketersediaan pupuk dengan harga lebih murah,” harap Jamaludin.

Adapun untuk potong basah di pabrik mencapai tiga persen dan tujuh persen saat hari hujan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.