PANGKALPINANG, Infobabel
Ayun (59) sedang merapikan sejumlah sepeda yang baru masuk di bengkelnya di kawasan Rejosari, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung pada Kamis (5/3/2026) siang.
Pria paruh baya tersebut, telah membuka usaha bengkel sejak tahun 2009 dan ia bertahan meskipun harus mengontrak kios setiap bulannya.
Kini di tengah sepinya orderan, Ayun diselimuti rasa was-was akan datangnya banjir.
Kawasan Rejosari selama ini memang dikenal rawan banjir. Setali tiga uang dengan daerah di sekitarnya seperti Kampung Opas dan Teluk Bayur, genangan air dengan cepat meninggi ketika diguyur hujan lebat.
Dalam waktu bersamaan pasang air laut memicu terjadinya banjir rob, menyebabkan Rejosari, Kampung Opas dan Teluk Bayur dengan mudah dihantam banjir dari hulu maupun hilir.
Puluhan ribu warga hingga kini bertahan tinggal, meskipun tak lagi memiliki rasa nyaman.
“Warga tak ada pilihan lain. Kalau mau pindah mikir biaya lagi, belum tentu dapat lokasi yang baru,” kata Ayun saat berbincang, Kamis.
Dampak banjir pada ekonomi
Ayun menuturkan, banjir berdampak langsung pada usaha bengkel dan rumahnya di Teluk Bayur.
Ketika hujan lebat mengguyur, Ayun akan segera menutup bengkelnya dan pulang ke rumah.
“Rumah posisinya rendah, kalau sudah masuk banjir, kondisinya kotor berlumpur. Minimal kita tinggikan perabotan supaya tidak rusak,” ujar ayah tiga anak itu.
Bagi Ayun dan keluarganya, genangan banjir bukan lagi sekadar bencana yang asing, tapi menjadi langganan yang tak bisa dihindarkan setiap tahunnya.
Masa-masa rawan, terjadi sepanjang tahun, terutama pada akhir tahun, hujan lebat dan banjir rob muncul hampir bersamaan.
“Sekarang harga tanah dan bangunan menjadi murah. Kita bangun ratusan juta, harganya jatuh. Orang tau ini rawan banjir,” ungkap Ayun.
Bengkel yang menjadi tempat usaha, kata Ayun memang tak mudah dijangkau banjir karena sudah ditinggikan setara dengan badan jalan. Namun permukiman di sekitarnya berada pada kontur tanah yang rendah sehingga dengan mudahnya tersapu banjir.
“Mau bagaimana lagi, warga terpaksa bertahan karena ujung-ujungnya nanti butuh biaya. Belum lagi pertimbangan tempat kerja jauh, anak mau sekolah dan tak bisa pindah begitu saja,” jelas Ayun.
Menurut Ayun, banjir pada tahun 2016 merupakan yang terparah, menenggelamkan seluruh kawasan termasuk badan jalan.
Pada tahun-tahun berikutnya selalu terjadi banjir dengan kedalaman 10 sentimeter sampai satu meter.
Kondisi demikian membuat warga rugi waktu hingga harta benda.
Sementara bantuan pemerintah tak bisa diharapkan banyak.
“Saat banjir biasanya ada bantuan makanan, mie instan. Bukan tidak bersyukur, tapi itulah bantuannya,” ujar Ayun.
Dia berharap pemerintah mulai memprioritaskan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir.
“Di kampung itukan ada bandar, kalau bisa diperlebar dan jaringan drainase harus memadai,” harap Ayun.
Sebagai pelaku usaha kecil, Ayun mengaku banjir yang terus berulang menyebabkan aktivitas warga terganggu.
Selain rasa was-was akan banjir, pelaku usaha juga harus membayar cicilan kredit yang membengkak karena bunga yang tinggi.
“Saya pernah minjam Rp 50 juta, dalam tiga tahun harus bayar hampir Rp 80 juta. Lengkap rasanya, dikejar-kejar banjir dan dikejar tagihan,” beber Ayun.
Beruntung bagi Ayun karena hutang berhasil dilunasi dan rumahnya yang jadi jaminan, terhindar dari sitaan.
Kini Ayun mengaku trauma untuk melakukan pinjaman lagi.
Ia memilih fokus melakoni usaha bengkel meskipun hasilnya pas-pasan.
“Sekarang cukuplah banjir yang kami hadapi, daripada dikejar-kejar utang,” ucap Ayun dengan nada pasrah.
“Teman saya ada yang pinjam ratusan juta buat buka ponton tambang. Sekarang semuanya habis, dirazia, rumahnya disita. Hampir setengah gila, zaman saro (susah),” beber Ayun.





