Mengenal Calon Kapal Induk Indonesia Giuseppe Garibaldi

oleh
oleh

Bangka, Infobabel

ITS Giuseppe Garibaldi (551), kapal induk helikopter asal Italia yang dihibahkan kepada Indonesia, saat ini tengah melintasi jalur pelayaran internasional menuju Nusantara dengan target ketibaan pada pertengahan September 2026.

Kapal ini memiliki dimensi panjang keseluruhan (length overall) mencapai 180,2 meter, lebar 30,4 meter, serta bobot muatan penuh sebesar 13.855 ton. Berbekal empat mesin turbin gas General Electric/Avio LM2500 berdaya 81.000 shp, kapal mampu melaju hingga kecepatan maksimum 30 knot dan memiliki jarak jelajah hingga 7.000 mil laut.

Ciri khas utamanya terletak pada dek penerbangan sepanjang 174 meter yang dilengkapi landasan ski-jump 4 derajat, memungkinkan hangarnya menampung serta memfasilitasi operasional 18 hingga 20 armada udara yang terdiri dari kombinasi pesawat tempur Short Take-Off and Vertical Landing (STOVL) serta berbagai jenis helikopter multiperan.

Baca juga : Semarak HUT ke-81 RI, PT TIMAH Tampilkan KIP dan Tugboat dalam Kendaraan Hias di Pangkalpinang

​Setibanya di Indonesia, kapal ini akan secara resmi masuk ke jajaran Armada TNI Angkatan Laut dan berganti nama menjadi KRI Gajah Mada. Kehadirannya diproyeksikan untuk memperkuat diplomasi pertahanan kawasan sekaligus meningkatkan deterrence effect Indonesia di wilayah laut strategis.

Selain fungsi tempur, KRI Gajah Mada diarahkan menjadi pusat komando bergerak (floating command center) untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya misi Bantuan Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana (Humanitarian Assistance and Disaster Relief/HADR) serta operasi pencarian dan pertolongan (SAR) skala besar.

Kapasitas angkut udara yang besar memungkinkan penanganan evakuasi medis darurat serta distribusi logistik secara cepat dan masif ke pulau-pulau terluar yang terisolasi.
​Kendati demikian, pengoperasian KRI Gajah Mada menghadirkan tantangan strategis yang tidak sederhana bagi TNI AL.

Sebagai kapal induk, kapal ini tidak dapat beroperasi sendirian melainkan membutuhkan pembentukan gugus tugas pengawal (Carrier Strike Group) yang terdiri dari frigat, korvet, kapal selam, dan kapal tanker pembekalan untuk perlindungan dari ancaman bawah air maupun udara.

Selain itu, Indonesia harus menyiapkan infrastruktur galangan kapal (dry dock) yang memadai, jaminan rantai pasok suku cadang, alokasi anggaran operasional yang signifikan, hingga pelatihan intensif bagi kualifikasi personel dek penerbangan dan penerbal guna memastikan integrasi doktrin maritim berjalan optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.