Jakarta, Infobabel
Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) mendorong transformasi besar-besaran industri pertahanan nasional agar Indonesia tidak lagi sekadar menjadi negara yang memiliki kemampuan perakitan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Lebih dari itu, Indonesia juga diharapkan mampu menguasai teknologi mutakhir hingga sektor hulu. Dorongan itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Penyusunan Rekomendasi Penguatan Industri Pertahanan Nasional di Jakarta.
Forum ini menjadi bagian dari rangkaian pembahasan lintas kementerian dan lembaga untuk merumuskan kebijakan penguatan industri pertahanan dalam memenuhi kebutuhan peralatan pertahanan dan keamanan nasional.
Asisten Deputi Koordinasi Kekuatan, Kemampuan, dan Kerja Sama Pertahanan Kemenko Polkam, Brigjen TNI (Mar) Kresno Pratowo, membeberkan pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia membutuhkan perubahan mendasar, terutama dalam aspek penguasaan teknologi dan kemandirian industri.
“Pembangunan kekuatan pertahanan negara saat ini membutuhkan transformasi fundamental. Kita tidak boleh lagi berada pada posisi sekadar memiliki kapasitas perakitan (assembling), melainkan harus bertransformasi menuju penguasaan teknologi mutakhir dan kemandirian sektor hulu, ” ujarnya.
Kresno menjelaskan penguatan industri pertahanan tidak cukup hanya diukur dari kemampuan Indonesia memproduksi atau merakit produk pertahanan.
Tantangan yang lebih besar adalah membangun ekosistem industri yang mampu menguasai teknologi inti, mengembangkan komponen strategis, serta memperkuat kapasitas produksi dalam negeri.
Transformasi yang didorong Kemenko Polkam menjadi penting di tengah kebutuhan Indonesia untuk membangun kekuatan pertahanan yang mandiri dan berkelanjutan.
Kemampuan assembling memang dapat menjadi bagian dari rantai produksi alutsista. Namun, ketergantungan terhadap teknologi, komponen, maupun material dari luar negeri dapat menjadi persoalan strategis apabila Indonesia tidak memiliki kapasitas industri di sektor hulu.
Maka dari itu, penguatan industri pertahanan diarahkan tidak hanya pada produk akhir, tetapi juga pada kemampuan teknologi yang menopang produksi.
Dengan penguasaan teknologi mutakhir, industri pertahanan nasional diharapkan mampu memiliki posisi yang lebih kuat dalam memenuhi kebutuhan TNI dan institusi keamanan lainnya sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan eksternal.
Adapun penguatan sektor hulu menjadi salah satu kunci dalam membangun industri pertahanan yang berkelanjutan.
Ketika kemampuan teknologi inti, komponen, riset, dan pengembangan dapat diperkuat di dalam negeri, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk membangun rantai pasok pertahanan yang semakin mandiri.
Langkah ini sekaligus dapat memperkuat keterhubungan antara kebutuhan pertahanan negara dengan kapasitas industri nasional.







