PANGKALPINANG, Infobabel
Pasar tradisional di wilayah Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung dalam kondisi memprihatinkan karena sejumlah fasilitas yang rusak serta kebersihan yang kurang terjaga.
Wakil Wali Kota Pangkalpinang Dessy Ayutrisna mengatakan, pasar tradisional akan direvitalisasi agar menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi.
“Saya masih melihat ada sisa dagangan yang dibuang ke selokan. Ini menambah beban petugas kebersihan. Kami berharap para pedagang memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan pasar,” kata Dessy di Pangkalpinang, Senin (2/2/2026).
Dessy mengungkapkan, salah satu pasar yang telah dikunjungi pemkot yaitu Pasar Pagi yang selalu ramai pengunjung setiap harinya. Pada pasar tersebut ditemukan sampah yang masih berserakan dan kondisi lantai yang berlubang digenangi air.
“Hasil peninjauan di lapangan menunjukkan banyak fasilitas pasar yang membutuhkan perhatian, mulai dari bangunan lantai dua yang minim aktivitas, musala dan tempat wudu, hingga area penjualan ikan yang licin akibat kerusakan keramik,” ujar Dessy yang kerap disapa Cece Dessy.
Dessy menambahkan bahwa berbagai permasalahan pada pasar tradisional akan menjadi satu paket dalam program revitalisasi nantinya. Namun, pemerintah kota belum bisa memastikan kapan pembangunan dimulai karena terlebih dahulu harus melihat ketersediaan anggaran.
“Saat ini masih dalam proses pengajuan bantuan dana ke pemerintah pusat, karena anggarannya tidak sedikit,” ujar dia.
Ia pun berharap adanya kerja sama dari seluruh pihak, khususnya para pedagang, agar pasar tradisional di Pangkalpinang dapat menjadi lebih bersih, tertata, dan nyaman bagi masyarakat. Para pedagang juga diimbau untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan pasar, khususnya dengan tidak membuang sisa dagangan ke selokan.
Sebagai langkah awal pembenahan pasar, lanjut Dessy, pemerintah kota menggiatkan gotong royong secara rutin dengan melibatkan seluruh stakeholder. Penataan pasar tradisional menjadi salah satu prioritas Pemkot Pangkalpinang. Selain Pasar Pagi, pemkot juga telah menjadwalkan peninjauan ke pasar lainnya.
“Kami sudah menjadwalkan peninjauan ke Pasar Besar pada 13 Februari 2026. Pasar-pasar ini memang menjadi perhatian dan bagian dari PR besar pemerintah daerah,” katanya.

Sementara pada pasar besar atau pasar induk, kondisinya juga sama dengan pasar lainnya di Pangkalpinang, yaitu berupa selokan yang tersumbat karena sampah serta jalan yang rusak tergenang air.
Pasar tradisional hingga kini masih jadi tumpuah warga Pangkalpinang untuk keperluan belanja kebutuhan sehari-hari. Kunjungan pasar biasanya meningkat jelang perayaan hari besar keagamaan.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Pangkalpinang mencatat timbulan sampah di Pangkalpinang mencapai 150-160 ton per hari dengan rata-rata komposisinya sebanyak 50 persen sampah organik dan 50 persen sampah non-organik. Sebagian besar dari sampah tersebut berasal dari pasar-pasar yang ada di Pangkalpinang.
Dari 150-160 ton produksi sampah per hari tersebut, sebanyak sekitar 125-140 ton dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit Enam yang kondisinya sudah membeludak. Sisanya dimanfaatkan oleh masyarakat seperti pemulung, pengepul, bank sampah, dan bahan untuk produk-produk olahan kreativitas seperti ban bekas.








