BANGKA, Infobabel
Petani sawit di Kepulauan Bangka Belitung menyambut positif program biosolar B50 yang diyakini akan mendongkrak harga pembelian tandan buah segar (TBS).
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Bangka Belitung Jamaludin mengatakan, serapan minyak sawit akan terjaga sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil melalui program B50.
“Kami sejak awal memang sudah mendukung. Mulai dari B5, B10, B30 sampai sekarang mulai diterapkan B50 karena ini akan berdampak pada kesejahteraan petani sawit Indonesia,” kata Jamaludin di Bangka, Kamis (9/7/2026).
Jamaludin menjelaskan, sebanyak 35 persen atau sekitar 19 juta ton dari 56 juta ton produksi crude palm oil (CPO) nasional akan terserap untuk biosolar.
Dengan demikian pasokan minyak sawit global akan semakin ketat sehingga berimplikasi pada kenaikan harga.
“Pasar global akan kehilangan sekitar 19 juta ton CPO, karena sudah dipakai untuk B50. Sesuai teori supply and demand maka harga ditingkat petani diharapkan ikut naik,” ujar Jamaludin.
Ia berharap harga lelang CPO juga ikut membaik seiring diberlakukannya B50 karena akan berdampak langsung pada harga TBS sawit petani.
Saat ini dengan harga jual TBS sawit di tingkat petani yang berkisar Rp 2.500 per kilogram, maka nantinya diprediksi bisa melonjak menjadi Rp 4.500 per kilogram.
“Inilah harapan yang ditunggu petani sawit. Komoditas ini membantu menggerakkan perekonomian lokal,” ujar Jamaludin.
Solar B50 artinya bahan baku menggunakan 50 persen CPO.
Tarmizi, petani sawit asal Riau Silip, Bangka, mengungkapkan bahwa selama ini kenaikan harga bahan bakar minyak dan pupuk belum dibarengi kenaikan harga TBS sawit.
Ia berharap nantinya ada perubahan signifikan jika B50 mulai diterapkan secara masif.
“Kami berharap hukum ekonomi itu memang terasa, jika permintaan banyak, maka harga ikut naik,” ucap Tarmizi.
Tarmizi mengatakan bahwa saat ini banyak warga desa yang menanam sawit dalam skala kecil pada tanaman pekarangan.
“Banyak yang bertanam sawit hanya dua sampai tiga batang saja di halaman rumah mereka di desa-desa. Ini sudah sangat membantu ekonomi keluarga dengan hasil panen rata-rata 100 kilogram atau 10 tandan setiap rumah,” pungkas Tarmizi.







