BANGKA, Infobabel
Masyarakat Dusun Pulau Nangka, Desa Tanjung Pura, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung selama ini kesulitan dalam mengembangkan perekonomian mereka.
Lokasi yang terpaut jauh dari pusat kota serta akses transportasi yang terbatas, menyebabkan Pulau Nangka jarang tersentuh pembangunan.
Kini secercah harapan kembali muncul dengan adanya program Jelajah Rasa Pulau Nangka.
Melalui program ini, potensi alam Pulau Nangka yang erat kaitannya dengan pariwisata dipadukan dengan makanan dodol, kuliner lokal yang sudah diwariskan turun temurun.
“Pulau Nangka memiliki potensi wisata bahari sekaligus produk pangan lokal yang cukup kuat, salah satunya dodol Pulau Nangka. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu pengalaman wisata,” kata dosen peneliti dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel), Zakia Ayu Lestari saat berbincang, Senin (31/8/2026).
Zakia menuturkan, pengembangan ekonomi masyarakat kini dilakukan melalui skema Hibah Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) Kompetitif Nasional 2026.
Kegiatan yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (DRTPM) tersebut menyasar masyarakat daerah terluar dan tertinggal.
Sesuai namanya, Pulau Nangka merupakan potret wilayah pulau seluas 324 hektar yang dihuni sebanyak 416 jiwa.
Dari Kota Pangkalpinang ke Desa Tanjung Pura terpaut sekitar 58 kilometer. Selanjutnya perjalanan ke Pulau Nangka harus ditempuh melalui jalur laut selama 30 menit.
Dalam kondisi cuaca badai, perjalanan bisa menghabiskan waktu lebih lama, bahkan demi keselamatan bisa saja pelayaran dihentikan sementara.
Zakia mengatakan, Pulau Nangka dipilih karena potensi pariwisata berupa laut dan pantai yang masih asri.
Kombinasi alam tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan tema kegiatan yaitu wisata gastronomi yang berkaitan dengan pariwisata dan program kearifan lokal yaitu dodol.
Dodol khas Pulau Nangka dikenal dengan rasanya yang gurih, manis dan legit serta sepenuhnya menggunakan bahan pangan lokal.
Program ini berangkat dari kondisi bahwa Pulau Nangka memiliki potensi wisata bahari sekaligus produk pangan lokal yang cukup kuat, salah satunya dodol Pulau Nangka. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu pengalaman wisata.
“Aktivitas wisata selama ini lebih banyak berorientasi pada kunjungan ke kawasan pantai, sedangkan proses pembuatan dodol dan cerita yang melekat pada produk lokal belum banyak dikembangkan sebagai bagian dari aktivitas wisata,” ujar Zakia.
Di sisi lain UMKM Dodol Yuk Wati masih menghadapi kendala pada proses produksi yang sebagian dilakukan secara manual. Salah satu tahapan yang membutuhkan waktu dan tenaga cukup besar adalah pemerasan santan. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penerapan teknologi dilakukan sebagai bagian dari program pemberdayaan.
“UMKM mendapatkan mesin peras santan yang telah dibeli, diserahkan, dan digunakan oleh kelompok. Pada penggunaan awal, terdapat peningkatan produksi sekitar 10 persen,” ujar Zakia.
Capaian tersebut, lanjut Zakia, masih merupakan hasil awal karena mesin baru digunakan satu kali sehingga belum dapat dijadikan gambaran produktivitas dalam jangka panjang.
“Pengadaan mesin peras santan dilakukan karena selama ini masyarakat kesulitan dalam pengolahan bahan baku,” ujar Zakia.
Zakia menambahkan bahwa pemanfaatan alat akan terus dipantau melalui pencatatan produksi, waktu kerja, bahan baku, dan hasil penjualan.
Penguatan UMKM juga dilakukan melalui pelatihan Good Manufacturing Practices (GMP), higiene, dan sanitasi. Kegiatan tersebut memberikan tambahan pemahaman kepada kelompok mengenai pentingnya menjaga proses produksi agar lebih bersih, tertata, dan memenuhi prinsip pengolahan pangan yang baik.
Ketua Tim Pelaksana, Hendi Hendra Bayu mengatakan, penguatan sektor usaha masyarakat juga dilakukan dari sisi administrasi dengan diterbitkannya NIB serta PIRT yang masih tahap proses.
“Kami juga merumuskan standar operasional sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata kelola usaha,” ujar Bayu yang didampingi anggota Sonia Awalokita dan sejumlah mahasiswi dari Universitas Muhammadiyah.
Bayu menambahkan bahwa tim Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung menggelar pemberdayaan siswa di Pulau Nangka sebanyak tujuh kali pertemuan guna meningkatkan keterampilan dan pemahaman kelompok Pokdarwis dan UMKM yang dimulai sejak 20 Agustus hingga 29 September 2026.
Di sisi lain, penguatan dilakukan pula kepada Pokdarwis Pulau Nangka yang memiliki peran langsung dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan.
Bayu mengisahkan bahwa pada kondisi awal anggota Pokdarwis masih mengalami kesulitan dalam menyampaikan informasi wisata secara terstruktur.
“Kemampuan storytelling, public speaking, dan teknik pemanduan juga belum sepenuhnya diterapkan dalam aktivitas wisata,” ungkap Bayu.
Baca juga : Misi Kemanusiaan ERG PT TIMAH ke NTT, Bawa Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa
Guna menjawab kebutuhan tersebut, dilaksanakan pelatihan interpretasi pemandu Wisata Gastronomi Pulau Nangka yang diikuti oleh 15 anggota Pokdarwis.
Materi pelatihan meliputi teknik pemanduan, storytelling, public speaking, serta interpretasi potensi gastronomi lokal.
Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti diskusi, praktik, dan simulasi agar kemampuan yang diperoleh dapat langsung diterapkan.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta. Berdasarkan pre-test, tingkat pemahaman awal berada pada angka 40 persen. Setelah mengikuti pelatihan, hasil post-test meningkat menjadi 75 persen, atau mengalami peningkatan sebesar 35 poin persentase.
“Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator awal bahwa pelatihan telah memberikan tambahan pengetahuan dan pemahaman bagi anggota Pokdarwis,” ucap Bayu.
Penguatan pada UMKM dan Pokdarwis selanjutnya diarahkan pada satu tujuan yang saling berkaitan, yakni mengembangkan produk lokal menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Produk Dodol Pulau Nangka tidak hanya diposisikan sebagai makanan yang dibeli wisatawan, tetapi mulai diarahkan sebagai bagian dari cerita dan aktivitas yang dapat dinikmati selama berada di destinasi.
Pengelola UMKM, Wati mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan peralatan serta pelatihan yang diberikan pemerintah melalui akademisi.
“Kami sangat terbantu dalam produksi dan juga diperkenalkan cara mengelola usaha jasa pariwisata,” ujar Wati.
Ibu lima anak itu berharap bantuan pendampingan terus berlanjut, ditambah promosi yang masif agar potensi Pulau Nangka bisa dikenal lebih luas.
“Banyak yang belum tahu Pulau Nangka itu di mana,” ungkap Wati.
Kepala Desa Tanjung Pura, Heri mengatakan, Pokdarwis dapat berperan dalam pengelolaan pengalaman dan pemanduan, sementara UMKM menjadi bagian penting dalam penyediaan produk.
“Paket wisata tersebut masih berada pada tahap pengembangan dan belum dilakukan uji coba. Tahapan berikutnya akan difokuskan pada penyelesaian itinerary, pembagian tugas antara Pokdarwis dan UMKM, penentuan durasi dan harga, penyempurnaan materi storytelling,” ujar Heri.
Ia berharap segera dilakukan uji coba kepada calon wisatawan dan hasilnya akan menjadi bahan untuk melihat kekurangan paket sebelum ditawarkan secara lebih luas.
“Pulau Nangka tidak hanya memiliki pantai untuk dikunjungi. Di balik produk lokal dan aktivitas masyarakatnya terdapat cerita yang dapat dirangkai menjadi pengalaman wisata. Jelajah Rasa Pulau Nangka,” ujar Heri.






