PANGKALPINANG, Infobabel
Krisis geopolitik yang membara di Selat Hormuz kini tidak lagi sekadar menjadi isu yang jauh dari realitas domestik. Eskalasi konflik di jalur urat nadi distribusi minyak dunia tersebut secara langsung mengerek harga energi global, menciptakan efek domino yang menjalar hingga ke tingkat daerah di Indonesia, termasuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bangka Belitung, Rommy S Tamawiwy mengatakan, kenaikan harga minyak dunia akibat restriksi dan ketegangan di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu inflasi Juni 2026.
“Tekanan eksternal ini memaksa Pemerintah menyesuaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax pada 10 Juni 2026. Kenaikan harga BBM ini secara instan mentransmisikan tekanan pada kelompok transportasi, yang paling kentara terlihat dari meroketnya tarif angkutan udara akibat melonjaknya harga bahan bakar pesawat (avtur),” kata Rommy di Pangkalpinang, Jumat (3/7/2026).
Rommy menjelaskan, ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda juga tercermin sangat kuat dalam struktur inflasi tahunan (yoy).
Berdasarkan data terkini per Juni 2026, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,35 persen (month-to-month/mtm).
Sementara itu, secara tahunan, inflasi tercatat berada di angka 2,92 persen (year-on-year/yoy). “Angka ini menunjukkan bahwa laju inflasi di Negeri Serumpun Sebalai tetap terjaga stabil dalam sasaran target inflasi nasional, yakni sebesar 2,5±1 persen,” ujar Rommy.
Saat ini inflasi tahunan Bangka Belitung berada di bawah rata-rata inflasi nasional yang menyentuh angka 3,34 persen (yoy). Pencapaian tersebut menempatkan Bangka Belitung sebagai daerah dengan laju inflasi tahunan terendah ke-tujuh secara nasional, sekaligus membuktikan ketangguhan tata kelola ekonomi daerah sepanjang paruh pertama tahun ini.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melesat tinggi dengan kenaikan indeks harga mencapai 6,17 persen (yoy). Lonjakan ini didorong utama oleh komoditas emas perhiasan. Dalam hukum ekonomi global, emas bertindak sebagai aset aman (safe haven) utama.
Ketika tensi politik internasional memanas, investor global berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke instrumen logam mulia, yang pada gilirannya mengerek harga emas dunia ke level tertinggi dan berdampak langsung pada daya beli masyarakat di daerah.
”Selain komoditas global, tekanan inflasi tahunan juga disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,49 persen (yoy), khususnya pada komoditas lokal seperti cumi-cumi, serta kelompok transportasi sebesar 4,20 persen (yoy) akibat imbas lanjutan biaya avtur,” ujar Rommy.
Di samping tekanan eksternal dari panggung global, inflasi Juni 2026 juga dipicu oleh faktor musiman domestik. Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terjadi lonjakan harga pada komoditas daging ayam ras secara bulanan.
Rommy mengatakan, inflasi sektor pangan ini merupakan dampak kumulatif dari terbatasnya pasokan pasca Hari Raya Idul Adha, yang bertepatan dengan lonjakan permintaan masyarakat lokal untuk merayakan tradisi menyambut tahun baru Hijriah di Bangka Belitung.
Rommy menegaskan komitmen penuh bank sentral untuk mengawal stabilitas ekonomi daerah. Bank Indonesia terus memperkuat barisan bersama pemerintah daerah dan mitra strategis melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Guna merumuskan bauran kebijakan yang presisi, TPID telah menggelar 10 kali pertemuan High Level Meeting (HLM) hingga Juni 2026, memastikan kebijakan pangan tetap berada di koridor yang aman.
Langkah konkret di lapangan diwujudkan secara masif melalui penyelenggaraan 64 kali Operasi Pasar Murah (OPM) dan gerakan pangan murah guna menjamin akses pangan yang layak dan terjangkau bagi masyarakat berdasarkan prinsip tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat komoditas.







