BANGKA, Infobabel
Komoditas jenis kakao dan lada (sahang) di Kepulauan Bangka Belitung memerlihatkan tren kenaikan harga di tengah lonjakan nilai mata uang dolar dan ketidakpastian global.
Dua komoditas ekspor tersebut kini diyakini mampu menjadi penopang ketahanan ekonomi petani lokal.
“Kalau kita lihat dalam beberapa minggu ini memang trennya naik, meskipun belum signifikan,” kata Plt Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Pemkab Bangka, Subhan saat dihubungi, Senin (8/6/2026).
Subhan menjelaskan, harga lada saat ini mencapai Rp 145.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya Rp 115.000 per kilogram.
Sementara biji kakao kering hasil fermentasi dibanderol Rp 100.000 per kilogram dan kakao non fermentasi Rp 48.000 per kilogram di tingkat petani.
“Untuk kakao biji kering fermentasi cenderung stabil, sementara non fermentasi ada pergerakan harga dari sebelumnya sekitar Rp 38.000 per kilogram,” ujar Subhan.
Ia menuturkan, luasan kebun kakao di Kabupaten Bangka diperkirakan mencapai 500 hektar dan lada seluas 1.600 hektar.
Dari komoditas tersebut, petani bisa menjual langsung atau menjadikannya sebagai tabungan karena biji bisa disimpan dalam waktu lama.
“Lada itu bisa bertahun-tahun disimpan. Dulunya lada menjadi komoditas utama, sekarang mulai teralihkan pada usaha yang lain,” terang Subhan.
Selain penjualan dalam bentuk biji kering, lada dan kakao, lanjut Subhan telah memiliki hilirisasi dalam bentuk kemasan siap saji.
“Sudah ada hilirisasi, memang belum banyak karena sumberdaya yang terbatas,” jelas Subhan.
Masyarakat petani, lanjut Subhan, bisa memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas untuk bertanam lada atau kakao.
Kebutuhan akan komoditas tersebut diyakini terus meningkat seiring adanya permintaan bahan baku pangan dunia.
“Melihat kondisi yang stabil saat ini, potensinya memang bagus. Apalagi ini eskpor, bisa mendapatkan kenaikan harga,” pungkas Subhan.








