PANGKALPINANG, Infobabel
Adang Taufik (54) telah mengabdikan dirinya sebagai guru ngaji di Masjid Muhajirin Muhammadiyah Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, selama hampir 22 tahun.
Ia tidak hanya mengajar, tapi juga menjadi saksi perkembangan masjid yang telah bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
Bangunan masjid yang dulunya menggunakan kusen kayu corak tradisional, kini telah berubah menjadi bangunan megah bertingkat dengan konstruksi besi yang tampak cerah dengan kombinasi warna hijau dan biru muda.
Adang juga menjadi saksi sekaligus korban saat banjir bandang menerjang Kota Pangkalpinang pada 2016.
Ketika itu hujan lebat menyebabkan debit air naik dan terhalang pasang air laut, menyebabkan sebagian kota termasuk masjid tenggelam sedalam 1,5 meter.
Adang yang sehari-hari tinggal di bangunan belakang masjid, terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Selama hampir tiga hari, banjir, perahu malam-malam sampai masuk ke masjid,” kenang Adang saat berbincang dengan Kompas.com di Masjid Muhajirin, Kamis (26/2/2026).
Tak lama setelah banjir surut, renovasi besar-besaran dilakukan pada bangunan Masjid Muhajirin.
Kini masjid yang berlokasi di Jalan Balai tersebut telah berdiri kokoh dan seperti biasa menjelang petang, di lantai satu, aktivitas mengaji bagi anak Taman Pendidikan Alquran (TPA), rutin dilaksanakan.
“Khusus Ramadhan, belajar ngaji mulai jam empat sore sampai sebelum buka puasa,” kata Adang.
Perilaku jujur
Adang merupakan salah satu guru ngaji aktif di Masjid Muhajirin Pangkalpinang. Perawakannya masih terlihat muda dengan rambut hitam mengkilap, meskipun sudah berusia lebih dari setengah abad.
Bagi Adang, bekerja dengan rasa tanggungjawab dan kejujuran, menjadi kunci hidup menjadi lebih tenang.
“Belajar perilaku rasulullah, ada nilai kejujuran di sana. Guru ngaji juga gitu, harus jujur, terima gaji harus berkah,” ucap dia.
Adang menuturkan bahwa saat ini sebanyak 30 anak yang berusia di bawah 10 tahun belajar mengaji secara rutin dengan metode iqra dan hapalan ayat-ayat pendek.
Anak-anak tersebut tidak hanya belajar ayat suci, tapi juga dikenalkan adab atau perilaku sopan santun.
“Tantangan guru ngaji zaman sekarang adalah menghadapi perilaku anak-anak. Beda kalau zaman dulu. Sekarang serba salah, dikerasin melawan, dibiarkan juga tidak baik,” tutur Adang yang kerap disapa Kang Adang.
Adang mengungkapkan bahwa anak cenderung suka bermain saat berkumpul bersama teman sebaya.
Hal demikian menjadi tantangan bagi guru ngaji, untuk membuat anak tertib, selama pengajian sampai shalat berjemaah.
“Mengaji dan shalat berjemaah itu tak bisa dipisahkan kalau di TPA. Masalahnya anak suka ribut, main waktu shalat sehingga banyak jemaah merasa terganggu,” ujar Adang.
Kebiasaan anak yang tidak tertib saat shalat berjemaah, lanjut Adang, berdampak pada guru ngaji.
Tak sedikit jemaah yang menegur bahkan mengomel pada guru ngaji, karena dianggap lalai mendidik anak.
“Sampai guru ngaji dan jemaah hampir ribut, mau bagaimana. Anak-anak memang dunianya main, zaman sudah berbeda, dari ponsel banyak pengaruh yang masuk,” ungkap Adang.
Di sisi lain, kegiatan TPA yang masih tergabung dengan ruangan masjid, juga menjadi penyebab kegiatan anak bersentuhan langsung dengan ibadah jemaah yang lain.
Guna mengurangi kebisingan anak, Adang berusaha mengajak para orang tua datang ke masjid untuk ikut shalat berjemaah.
Tetapi harapan itu sulit terpenuhi dan masih banyak orang tua yang enggan datang bergabung untuk shalat berjemaah di masjid.
“Kalau ada orang tua masing-masing kan anak bisa lebih tertib waktu shalat. Tapi banyak yang gak shalat di masjid, kebanyakan cuma datang ngantar dan jemput anak,” beber Adang.
Namun dengan segala tantangan itu, Adang mengaku optimistis untuk selalu mengabdi sebagai guru ngaji, berjuang di jalan Allah atau Fisabilillah.
Sebagai guru ngaji, ujar Adang, dirinya hanya menerima uang insentif Rp 500.000 per bulan yang ditanggung Pemkot Pangkalpinang.
Insentif tersebut dipotong pajak dan dibayarkan setiap enam bulan sekali.
Sementara anak didik hanya dikenakan iuran Rp 25.000 per bulan, namun hanya sebagian orang tua yang bersedia membayar.
“Hanya 25 persen yang bayar, selebihnya free atau tanpa biaya. Beda kalau less, orang tua mau keluar biaya,” tutur Adang.
Selain sebagai guru ngaji, Adang juga merangkap sebagai marbot masjid yang mengurusi kebersihan toilet hingga menjadi Imam shalat.
Adang sendiri juga punya toko gorden yang membantunya untuk membiayai pendidikan lima anaknya.
“Anak sulung kuliah di UPI Bandung dan yang bungsu masih SD Muhammadiyah. Alhamdulillah pendidikan anak-anak bisa jalan,” ujar Adang yang pernah mengenyam pendidikan di Persatuan Islam (Persis) Bandung.
Adang berharap pemerintah terus memperhatikan pendidikan agama, khususnya dalam pembentukan akhlak agar bangsa dijalankan oleh pemimpin yang jujur.







