Pangkalpinang Atasi Sampah dengan Maggot dan Penyulingan Minyak

oleh
oleh

PANGKALPINANG, Infobabel

Sebuah kawasan perbukitan di pinggiran Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, telah menjadi sentra budidaya maggot sejak empat tahun terakhir. Dikelola Didik Sugianto (50), ayah empat anak yang putar haluan dari mandor proyek, menjadi aktivis lingkungan yang bukan sekadar berteori, tetapi melakukan aksi nyata.

“Sampah rumah tangga itu potensinya besar sekali dan nyaris belum ada di Bangka Belitung yang mengelola sebagai pakan ternak dalam bentuk maggot,” kata Didik saat berbincang dengan awak media, Selasa (11/11/2025).

Didik menuturkan, keahlian budidaya maggot diperoleh secara otodidak. Bermula dari informasi keluarga iparnya di Bojonegoro, Jawa Timur, Didik kemudian mulai bereksperimen sendiri. Semua dilakukan secara mandiri ditemani sang istri.

“Tengah malam itu masih milah-milah sampah, mana yang organik mana yang an-organik. Organik diambil untuk budidaya maggot,” ujar Didik.

Selain butuh ketekunan, Didik mengaku harus menyiapkan mental dan kesabaran dalam menjalankan usahanya itu. Dari semula bekerja mengatur orang, kini harus terjun langsung memulai dari awal tanpa anak buah. Tak sedikit yang meragukan, bahkan ada yang menilai Didik tak akan punya masa depan.

“Biasa kawan-kawan kadang bercanda, ada cemooh, mengapa sudah jadi mandor sekarang mengais-ngais sampah,” kenang Didik.
Seiring berjalannya waktu, usaha budidaya maggot yang dirintis Didik mulai menampakkan hasil. Permintaan maggot pun datang dari berbagai pihak, membuat Didik kewalahan. Ia pun mulai melibatkan masyarakat sekitar untuk ikut membantu budidaya, mulai dari pemilahan sampah, pemberian pakan maggot hingga masa panen yang siklusnya berlangsung selama 50 hari. Panen maggot sendiri dilakukan dalam rentang 20 hari.

Maggot merupakan kawanan larva yang berasal dari lalat tentara hitam atau black soldier fly yang dikenal sebagai pengurai sampah organik dan sumber protein alternatif.

“Sekarang sudah ada 13 orang yang ikut bantu-bantu. Mereka berasal dari kelompok rentan, seperti lansia, mantan narapidana dan disabilitas,” ungkap Didik.

Dalam sehari usaha Sahabat Farm yang dikelola Didik mampu menghasilkan omset Rp 200.000 sampai Rp 300.000 per hari dengan estimasi harga jual maggot hidup Rp 8.000 per kilogram.

“Pembelinya seperti peternak lele, orang per orangan dan toko ikan hias juga,” beber Didik.
Dari usahanya itu, Didik tidak hanya membuka lapangan usaha, tapi juga berhasil membiayai pendidikan anak-anaknya hingga meraih gelar sarjana.

Didik memperkirakan potensi pasar maggot akan terus meningkat seiring gencarnya program ketahanan pangan. Apalagi ini berkaitan dengan pelestarian lingkungan, terutama dalam mengurangi beban sampah yang dihasilkan masyarakat setiap harinya. Namun dengan potensi yang besar tersebut, budidaya maggot Sahabat Farm masih terbatas untuk memenuhi permintaan lokal. Selain terbatasnya peralatan, Didik juga harus mempersiapkan sumberdaya manusia untuk melakukan kajian di laboratorium.

“Jangka panjang kami ingin produksi dalam bentuk pelet. Kadar nutrisi seperti kandungan protein harus dihitung, ada sertifikasi kalau mau ekspor. Jadi sementara fokus lokal dulu,” jelas Didik.

Menurut Didik, sampah organik yang saat ini dimanfaatkan mencakup sisa makanan dan sayuran, susu kedaluwarsa hingga kertas tisu.

“Semua itu dimakan maggot,” ungkap Didik.

Kini selain memanfaatkan sampah organik, Sahabat Farm juga dipersiapkan untuk mendaur ulang sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. Tanki penyuling kapasitas 300 liter sudah terpasang dengan target pengolahan satu ton sampah plastik setiap harinya. Produk yang dihasilkan berupa bahan bakar minyak cair dan sisa endapan untuk dijadikan arang briket.

“Alhamdulillah ada bantuan juga dari BUMN, tujuannya semua sampah yang masuk bisa diolah. Selama ini kan kami ambil yang organik saja, ke depan semua ditampung dan diolah, ada maggot sampai minyak,” beber Didik.
Sementara kendala yang dhadapi, lanjut Didik, berupa cuaca yang akhir-akhir ini kerap mendung. Dalam kondisi tersebut, pergerakan lalat menjadi berkurang sehingga produksi telur sebagai cikal bakal larva ikut menurun. Untuk mensiasatinya, lokasi budidaya dipasangi lampu yang membantu penerangan bagi koloni lalat saat siang maupun malam harinya.

“Lalatnya tetap aktif kalau ada cahaya,” sebut Didik.
Sahabat Farm kini tidak hanya menjadi tempat produksi, tapi juga menjadi rujukan dan lokasi penelitian bagi perintis usaha agro, termasuk dari kalangan akademisi.

– Dukungan kelurahan

Lurah Bukit Besar, Yurdani menambahkan, usaha Sahabat Farm berjalan konsisten tanpa digaji pemerintah.

“Mereka kelola sendiri dari hasil usahanya, kami hanya memfasilitasi, tidak digaji,” ucap Yurdani.
Dia mengatakan bahwa pengelolaan sampah organik maupun an-organik akan terus ditingkatkan seiring bertambahnya volume sampah dari rumah-rumah warga maupun tempat usaha. Selain itu disiapkan Koperasi Merah Putih sebagai lini usaha yang menjadikan pekerja sekaligus anggota di dalamnya.

“Dalam sehari rata-rata di kelurahan ini saja bisa dua ton, dilayani dua pikap,” ujar Yurdani.

Kelurahan juga mengantisipasi limpahan sisa makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar sekolah-sekolah. Dengan perhitungan 21 SPPG yang akan beroperasi saban hari, potensi sampahnya mencapai 21 ton di waktu yang sama.

“Jadi kami terus mendorong sentra daur ulang sampah, salah satunya budidaya maggot dan penyulingan sampah plastik. Ini sangat membantu program pemerintah,” pungkas Yurdani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.