BANGKA BARAT, Infobabel
Festival Perang Ketupat yang digelar di Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, Tempilang, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung dipadati pengunjung, Minggu (8/2/2026).
Ribuan warga tumpah ruah memadati lapangan hingga perbukitan yang menghadap langsung pantai, menyaksikan tradisi perang ketupat, rangkaian menyambut bulan suci Ramadhan.
“Acara rutin tahunan menjelang bulan puasa. Kami sekeluarga selalu menyempatkan datang,” kata Firman, pengunjung asal Pangkalpinang, Minggu.
Festival Perang Ketupat merupakan tradisi masyarakat pesisir Tempilang sebagai wujud rasa syukur atas hasil laut yang melimpah, sekaligus simbol kebersamaan dan doa untuk menolak bala. Tradisi ini juga menjadi momentum mempererat persaudaraan antarwarga serta menjaga kelestarian adat budaya lokal.
Konon tradisi perang ketupat juga menjadi simbol perlawanan terhadap lanun atau bajak laut yang hendak mengganggu masyarakat di darat.
Kegiatan ini diawali dengan pembacaan mantra oleh tokoh adat dan dilanjutkan dengan pembagian tim untuk perang ketupat.
Peserta perang ketupat meyakini bahwa tubuh mereka tidak merasakan sakit karena telah dijampi-jampi oleh tetua adat.
Perang ketupat berlangsung selama lima menit dan diulangi lagi dengan tim yang berbeda sampai seluruh ketupat dalam dulang habis digunakan.
Festival budaya yang sarat makna ini dihadiri langsung oleh Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Mirranda yang disambut hangat oleh tokoh adat dan warga Tempilang melalui prosesi adat, tari sambut, serta rangkaian ritual tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Momen paling menarik terjadi saat puncak acara dimulai. Tidak hanya memantau jalannya kegiatan, Wakapolda Murry Mirranda turun langsung ke lapangan dan ikut dalam prosesi Perang Ketupat bersama masyarakat.

Dengan penuh keakraban, Wakapolda tampak berbaur dan saling melempar ketupat bersama warga. Suasana penuh tawa dan kekeluargaan pun tercipta, mencerminkan kedekatan Polri dengan masyarakat dalam menjaga harmoni sosial dan budaya daerah.
Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha yang ikut mendampingi wakapolda, memastikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan pesta adat Perang Ketupat dan sedekah ruah berjalan dengan aman berkat sinergi pengamanan lintas instansi.
“Pengamanan secara terpadu sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung aman, tertib, dan kondusif,” ujar Pradana.
Ia menambahkan, pengamanan dilakukan mulai dari pengaturan arus lalu lintas, penjagaan lokasi kegiatan, hingga pengawalan tamu undangan, guna memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang hadir.
Setelah rangkaian utama Pesta Adat Perang Ketupat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Naber Kampong, yakni bertamu ke rumah-rumah warga sebagai bagian dari tradisi sedekah ruah, yang menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Tempilang.







